Selasa, 09 Juni 2009

CAD Atau BIM untuk Gambar Kerja

Zaman sekarang adalah zaman komputerisasi. Bisa dibayangkan, dahulu kala, sebelum era komputer menjadi tren, menggambar arsitektur masih dilakukan dengan manual menggunakan rapido. Memang hasilnya bernilai artistik karena ada jiwa seni tinggi yang bisa dilihat dari rapihnya pengerjaan gambar, ketelatenan membuat tekstur yang seolah-olah dikerjakan oleh mesin.

Zaman sekarang, untuk membuat gambar arsitektur dengan tangan, dianggap kuno, konvensional dan kurang cepat. Kelemahan membuat gambar dengan tangan adalah lambatnya proses pengerjaan bilamana terdapat revisi yang berkali-kali. Drafter pun dibuat sibuk olehnya. Dengan adanya teknologi, semua hal tersebut dapat dieliminasi.

Dalam dunia digital arsitektur, pada dasarnya terdapat 2 jenis software yang biasa digunakan. Jenis pertama adalah CAD dan jenis kedua adalah BIM. CAD adalah Computer Aided Design, dan BIM adalah Building Information Modeling. Yang membedakan CAD dengan BIM adalah otomatisasinya. CAD datang lebih awal dan menjadi dasar terbentuknya BIM. Pada awal-awal, kita mengenal software yang dinamakan AutoCAD. Memang, AutoCAD sendiri sampai saat ini masih berkembang sangat pesat. Dahulu, software itu memang menjadi andalan.

CAD bila dilihat, merupakan digitalisasi pengerjaan gambar tangan, dan cenderung merupakan gambar 2D. Contohnya, bila kita ingin membuat dinding, kita membuat 2 line pada CAD dengan ketebalan 150mm, dan seterusnya. Software CAD zaman sekarang, menambahkan fitur Wall, dimana kita tidak usah membuat dua buah line secara manual. Namun, intinya, software CAD proyeksinya lebih ke arah drafting secara 2D, walaupun sebenarnya, CAD pun bisa membuat 3D.

BIM, di lain pihak merupakan pengembangan dari CAD. Software BIM di antaranya ArchiCAD dan Autodesk Revit. Dimana bedanya, BIM bermain dalam dunia 3D. Bila kita ingin membuat dinding, kita menggunakan fitur Wall, dan jadilah dinding yang diinginkan dengan ketebalan tertentu, dan dengan tinggi tertentu , yang tergambar secara 3D dan otomatis secara 2D nya. Bila kita ingin membuat potongan bangunan, kita tinggal menempatkan simbol potongan dan bangunan otomatis akan membuat sendiri potongannya, tentu dengan ketebalan dinding, tekstur dan lain-lain.

Betapa praktisnya membuat gambar potongan dan yang lainnya dengan BIM, disamping mengeliminasi kesalahan yang mungkin terjadi. Bandingkan dengan CAD dimana bila kita ingin membuat potongan tertentu, kita harus membuatnya lagi dan lagi.

Mau pilih mana? Tentu hanya kita sendiri yang dapat menentukan, apakah ingin membuat gambar arsitektur dengan tangan, dengan CAD atau menggunakan BIM.

Penulis: Hendy Kartono

http://ideaonline.co.id

2 komentar:

  1. "aku bangga dengnan perubahan km"
    disana banyak km temukan sesuatu yang ta km dapatkan di sini"pengalaman"&"jati diri"
    teruskan sister...this good for you.

    BalasHapus
  2. pesan :jadilah orang yang berguna"berhasil no 2121.

    BalasHapus